Abu Muslimin: “U Langet Hantoe U Bumoe Han Rap”

Abu Muslimin: “U Langet han toe U Bumoe han rap”

Abu Muslimin: Tokoh Tua GAM 

“U Langet han toe U Bumoe han rap” 

Hijrahnya Wali Neugara, Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari belantara Halimun menapaki belukar Aceh Utara, pada 1978 meninggalkan tiga ratusan pengikut setianya di hutan Pidie, antara Jeunieb dan rimba Tiro. 

Saat itu, tubuh pria necis dinasti Tiro ini, dibalut jas beledru krem. Sebuah palu tembaga berukuran kecil, digepal di tangan kanannya. Sepanjang perjalanan menuju pantai Jeunieb, Wali Neugara mengetuk-ketukkan palunya ke dinding jurang, saat rombongan menapaki perbatasan. 

Di depan sebuah batu putih, Wali Neugara yang masih muda itu berujar kepada pengikutnya, “Ini semua uang kita—pusaka indatu—yang perlu kita olah untuk melanjutkan kejayaan Bangsa Aceh,” tegas Teungku Hasan, sambil mengkantungi serpihan batu putih tersebut. 

“Safari (pengikutnya dan militer angkatan pertama GAM—red), di sini akan kita bangun pusat peradaban bangsa Aceh. Tunggulah di sini. Delapan bulan lagi, saya kembali,” ujar Hasan Tiro kepada dia. Safari tidak diizinkan melanjutkan perjalanan bersama rombongan. Dia harus menunggu delapan bulan sampai Hasan kembali. 

Tetapi, 18 jam kemudian sekitar 800-an anggota Pelaksana Khusus (Laksus) dari Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), tiba di lokasi itu. Safari terkepung. AK-47 di tangan tak banyak membantu pria asal Tiro ini. Pinggang dan tulang keringnya patah ditembusi proyektil F16 aparat keamanan. 

Safari harus mendekam Enam tahun di penjara 113-Lamlo/Pidie. Setelah ia keluar dari tahanan militer, Safari “sudah tak dianggap”. Kendati peluru masih bersarang di tubuhnya, rasa rindu Safari akan kepulangan Wali Neugara tak pernah terobati. Dia pahlawan tanpa pengakuan. Kini, hari-harinya dihabisakan sebagai pengembala sapi. 

Hari melaju begitu cepat, tanpa terasa 32 tahun telah berlalu. 300-an perintis perjuangan GAM “peninggalan” Wali Neugara, telah syahid satu persatu. Tinggallah Abu Muslimin (Teungku Harun—red), Apa Ni Di Tiro, Apa Uma, Abu Wahab Kreung Seumideun, dan Teungku Safari Di Tiro, dan beberapa tokoh tua angkatan pertama GAM. Jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.  

Apa harapan ke depan Tetua GAM ini? Wartawan Sirareferendum T. Zulfahmi BTM mewawancarai secara khusus Abu Muslimin, tokoh tertinggi kedua GAM, setelah Wali Neugara. Berikut petikannya: 

SUWA (S) Boleh Abu ceritakan perasaan Abu atas kemenangan kandidat GAM? 

ABU MUSLIMIN (AM) Alhamdulillah…. Segala puji bagi Allah SWT. Dia telah melimpahkan kelapangan bagi Bangsa Aceh untuk terus berjuang. Kita semua  telah meraih kemenangan awal sebagai start permulaan bagi kemenangan sejati nantinya. Dan segerakanlah pugar makam pahlawan yang  banyak bertebaran di seantero bumoe Aceh.  

(S) Mengapa Irwandi menang padahal banyak pihak memperkirakan H20 menang? 

(AM) Dari dulu pun orang GAM selalu menang di negeri sendiri, dan siapa saja mendustai ideologi Indatu pasti ditinggal rakyat. H20 (Humam-Hasbi Oke-red) wajar menderita kekalahan telak. Dari dulu saya yakin Teungku Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar pasti menang. Saya sepandangan dengan Teungku Bahktiar Abdullah bahwa kedua Tokoh GAM ini (IrNa), sangat dicintai Rakyat. Yang dicintai rakyat pasti Menang. 

(S) Apa harapan Abu pada pemerintah Irwandi Nazar? 

(AM) Hendaknya pilar tua perjuangan GAM tidak ditinggalkan. Jadikan mereka tempat bertanya. Ulama pendukung GAM, anak yatim dan janda konflik harus disantuni. Selain itu, jangan lupakan tempat sakral seperti Dayah Tiro, Dayah Lampisang, Ujong Rimba, dan Dayah Kreung Seumideun. Juga masih banyak dayah- dayah lain yang punya arti penting bagi perjuangan bangsa Aceh. 

(S) Harapan Abu Pada Jakarta? 

(AM) Jakarta jangan seperti pijeit (kutu busuk) lagi sukanya hanya sama darah, dan pijeit identik dengan penipu. Dari masa pergolakan DII/TII, Jakarta senang menipu dan mebunuh, padahal perang hanya bukti bahwa politik telah gagal dilaksanakan. Jangan sampai sejarah berulang. Aceh sudah mau damai, dan hanya RI yang berpotensi mengorek luka lama jadi semakin dalam. Ingat tindakan politik ambisius Jakarta hanya mengantar Aceh pada kemerdekaan yang sesungguhnya. 

(S) Apa yang harusnya jadi target utama pemerintahan Aceh nantinya? 

(AM) Rujukan. Ajak rakyat memaafkan para pendusta ideologi indatu, mereka tidak tahu kondisi Psikologis orang Aceh setelah 30 tahun bermandi darah. Mungkin oknum GAM yang mati-matian mendukung H20 demi diplomasi yang tidak ketulungan, tapi sayang, keblablasan. Dan akhirnya, apa? Mereka tidak bisa jalan dengan kepala tegak (malu sendiri). Harapan saya pemerintah Aceh harus mengajak rakyak berbesar hati, menerima teman-teman yang terperosok ke dalam jurang H20. 

 

 

(S) Mengapa segelintir orang GAM, itu berani mengklim dukungan buat partai nasional RI. Padahal jalur independen adalah pilihan politik GAM? 

(AM) Lebih jelasnya, tanya saja pada mantan GAM yang kalah dalam memaksakan politiknya (H20) dalam PILKADASUNG, kemarin. 

Saya rasa mereka punya banyak  jawaban. Mereka tetap yakin bahwa H20 berada di pihak benar. Walau sebenarnya pola pikir mereka tidak relevan alias ketinggalan jaman dan banyak tokoh di H20, pengagum berat Dawod Beureu’eh. 

(S) Dapatkah diartikan bahwa partai nasional PPP sehaluan dengan elit GAM? 

(AM) Yang saya tahu justru banyak tokoh tokoh H20 punya andil dalam menghalang halangi eksistensi perjuangan rakyat di masa lalu. Masa’ tiba tiba jadi pahlawan di siang bolong. Saya lebih melihat, ada Panglima Tibang yang menyadari Kapal Bangsa Aceh hampir mendakati pantai. Jadi mereka bahu membahu untuk membocorkannya. Negara mana pun di dunia ini yang memiliki banyak pahlawan, pasti  banyak juga pengkhianatnya alias cu’ak (cuwak). Jadi saya pikir H20 dengan GAM sejauh langit dan bumi. Kenyataannya sekarang mereka tidak berkoar-koar lagi, sebaiknya kita juga tutup buku. 

(S) Abu orang paling dekat dengan Wali. Kira-kira bagai mana perasaan Wali atas kemenangan rakyat kali ini? 

(AM) Tentu senang sekali. Yang pertama diproklamirkan Wali, adalah perjuangan diplomasi tanpa senjata. Tetapi RI memaksa Aceh beli senjata saat itu, lewat tangan besinya. Seperti yang dulu dipraktikkan Ali Sastromijojo, kala menumpas DII/TII. Dan kini Perjuangan yang dicita-citakan wali sudah wujud. Kita bebas berdiplomasi, berhubungan dengan dunia luar, sesuai MoU. Mengenai perasaan Wali, beliau pernah bilang “Tidak boleh mengikuti penutoh (keputusan) yang melenceng dari jalur, walau ucapan itu keluar dari mulut pemimpin,” ini isyarah yang jelas. Sekaligus saya telah menjawab perasaan Wali. Kalau Wali pulang ke Aceh pasti menepuk bahu putra terbaiknya (Irwandi-Nazar). 

(S) Suatu hari pasca PILKADA, Meuntroe Malik pernah mengeluh kepada orang dekatnya: “Apa salah saya kepada bangsa, kenapa jadi begini.” Sebagai orang tua GAM,  kiranya Abu tahu awal langkah keliru para elit hingga jadi runyam begini? 

(AM) Elit membiarkan dirinya jauh dari rakyat. Mentroe dipingit oleh orang yang ingin pamor para elit GAM hilang. Buktinya elit pulang ke Aceh tetapi  tidak langsung ke Tiro, di tempat  Wali memproklamirkan GAM, ini tidak masuk akal bagi saya. Karena tempat itu sakral bagi Wali, dan bagi seluruh orang perjuangan yang sadar sejarah. Mengapa sejarah gemilang GAM, bagai terputus mata rantai bagi mereka. Banyak orang tua perjuangan yang mengadu kepada saya. Jauh jauh datang ke Banda Aceh untuk jumpa Mentroe tapi pulang dengan perasaan kecewa. “Mentroe sedang istirahat” jawab pengawalnya. Jawaban ini melukai hati pejuang, dan  itu tidak direstui Allah. 

(S) Siapa yang pingit Meuntroe? 

(AM) Itu tadi, Mereka sekelompok orang pintar, yang melihat pelayaran ini sudah mendekati pantai, dan ingin membocorkan kapal. Supaya kita nggak kesampaian ke darat. Ada orang yang mengambil keuntungan dengan keadaan Aceh yang terkatung katung. 

Tapi Allah Maha adil, keadaan segera berbalik: pendusta ideologi U langet han toe U bumoe han rap–akan ditolak di langit, sedangkan bumi sudah memuntahkan mereka. 

PPP pasti meninggalkan mereka. Rakyat menjauhinya…! Pada gilirannya mereka akan kehilangan habitat. 

(S) Mungkin Abu minta sesuatu kepada Irwandi sebagi kenang-kenagan? 

(AM) Kalau ada uang, tolong bawa saya (Abu muslimin), Apa Gani di Tiro, Abu Wahab Kreung Seumideun, Abi Lampisang untuk jumpa Wali. Sudah 30 tahun saya merindukan Wali, kami benar benar rindu. Saya yakin Wali juga sangat rindu kepada kami. Bertahun tahun kami makan geu jok (umbut pohon aren), bersama dengan Wali di perdalaman hutan Tiro. Saat itu kami dikepung Laksus (Pelaksana Khusus). 

(S) Soal pembangunan dan bantuan mana  yang harus didahulukan? 

(AM) Merekonstruksi  rumah ibadah yang dibakar Aparat. Dayah yang dirusak aparat, belum Satu pun tersentuh bantuan, ini mendesak. Dulu sarana ibadah itu banyak menampung orang kita  kalau bantuan tiba. Perhatikan terlebih dahulu mereka yang cacat seumur hidup seperti Ibrahim Teumpok Peut Plo’h, mereka tidak bisa cari uang lagi, tidak ada sesuatu simpanan yang bisa dimakan. Kasihani juga anak yatim terutama mereka yang  terisolir di perdalaman Aceh, dari Sabang sampai Tamiang. 

(S) Abu sendiri mengalami musibah besar, Selain ditembak dan dipenjara, adakah kerugian harta benda? 

(AM) Tiga rumah saya dihancurkan, yang tinggal hanya pondasi saja. Dan secara pribadi saya bisa tinggal di gubuk seperti saat ini, walau orang bertandang ke rumah saya menyebutnya kandang Ayam. Bagi saya yang penting bisa shalat. Ada orang lain tak punya gubuk. Hidup numpang di rumah saudara. Bagaimana masa depan anak-anak pejuang ini. Perhatikanlah. 

 

(S) Terakhir, apa yang harusnya jadi target politik utama pemerintahan Aceh nantinya? 

(AM) Rujukan, ajak rakyat memaafkan para pendusta ideologi indatu, mereka tidak tahu kondisi Psikologis orang Aceh setelah 30 tahun bermandi darah. Mungkin oknum GAM yang mati-matian mendukung H20 demi diplomasi yang ngak ketulungan, tapi sayang, keblablasan. Dan akhirnya, apa? Mereka tidak bisa jalan dengan kepala tegak( malu sendiri). Harapan saya pemerintah Aceh harus mengajak rakyak berbesar hati, menerima teman-teman yang terperosok kedalam jurang H20. Jangan sampai jadi bumerang untuk masa masa yang akan datang. Jangan sampai kita berperang sesama Aceh. 

Biarlah generasi Aceh ke depan tumbuh secara wajar, membenah segala aspek kehidupan: Agama, ekonomi, sosial budaya. Satukan misi. Seayun langkah, seiring bahu. Perjalanan masih jauh….!

Sumber : www.sirareferendum.org

~ oleh Siti Maryam Ali Noordien pada Februari 15, 2007.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: